Ngopi
Oleh: Hartanto
Menyempitkan ruang pikiran, memperpendek waktu, menyederhanakan hal yang kompleks dengan hal-hal kecil yang bisa bermakna mendalam. inilah ngopi.
Tidak harus mensyaratkan adanya teman ngobrol. ia hanyalah komplemen. biarkan sejenak memarkir diri dan pikiran. merenungkan kembali waktu dan aktifitas yang telah lewat, mencari nilai yang terkandung didalamnya. inilah dunia sekeliling ngopi.
Kopi tak hanya enak karena manis. kopi juga bukan pula nikmat karena kafeinnya. itu terlalu linier. kopi lebih termaknai sangat dalam karena ia hadir pada waktu yang tepat yang bisa mendatangkan pencerahan.
Perkembangan berikutnya adalah banyak diversifikasi rasa dan penyajian. ada kopi susu, kopi ginseng, es kopi dan banyak lagi. gak masalah karena itu juga masih berhubungan dengan kopi. tapi satu yang pasti, saat kita memerlukan ketenangan, pertimbangan kopi.
—-
Sumber:
http://cangkeman.wordpress.com/tag/ngopi/
http://har-tanto.blogspot.com/2006/01/ngopi.html
Pemanasan Global dan Kita
Kompas, Senin, 23 April 2007
Ivan A Hadar
Pemanasan global berdampak negatif nyata bagi kehidupan ratusan juta warga di dunia.
Demikian laporan para pakar yang tergabung dalam Intergovernmental Panel on Climate Change. Salah satu dampaknya, suhu permukaan bumi sepanjang lima tahun mendatang meningkat plus dampak lanjutan, antara lain kegagalan panen, kelangkaan air, tenggelamnya daerah pesisir, banjir, dan kekeringan….
Baca selengkapnya di http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0704/23/opini/3469235.htm
Ketimpangan Emansipasi Wanita Indonesia
Akhirnya, setelah bersembunyi di batok kepala sekian lama, ide bikin blog terwujud juga. Sekadar testing, berikut tulisan yang kuedit dan dimuat Harian Duta Masyarakat edisi Senin, 23 April 2007:
—————————————————-
Ketimpangan Emansipasi Wanita Indonesia
Oleh Fathor Rahman Jm
Peneliti dan Direktur Eksekutif pada Studi Multi Dimensi Annuqayah Latee (SMUDAL), Tinggal di Guluk-guluk
Emansipasi wanita yang diperjuangkan di Indonesia sejak RA Kartini hidup, 124 tahun silam, sungguh masih belum merata dan tidak seimbang. Beberapa kasus di bawah ini menunjukan hal tersebut.
Kasus pertama, seorang perempuan tengah baya berdiri di atas mimbar di depan kelas, menyampaikan materi kuliah kepada mahasiswanya. Di sampingnya terdapat onggokan buku literatur yang berjubel sebagai landasan apa yang sedang disampaikannya. Buku-buku itu sudah jarang dibuka karena semua yang tertuang dalam buku itu sudah terekam dalam otaknya. Ia seorang dosen, Prof Dr, yang rajin dan cerdas, dan mampu mentransfer ilmu-ilmu berkualitas dengan baik. Penyampaiannya fasih, logis, dan sistematis. Kata mahasiswanya, penyampaiannya ilmiah banget. Tapi sayang, sampai setua itu ia belum berumah tangga.
Kasus kedua, seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kegiatan padat pada banyak organisasi. Selain ketua PKK di kampungnya, sekretaris LSM perlindungan wanita dan anak-anak, ketua kumpulan Muslimatan, pembina perkumpulan olah raga bola voli, juga sebagai asisten dosen di kampusnya.
Baginya, tak ada hari bersantai ria. Meskipun ada di rumah, dia selalu bekerja mempersiapkan banyak hal, mulai materi sambutan dalam acara maulid nabi sampai pada mempelajari materi kuliah yang akan disampaikan pada para mahasiswa di kampus. Setelah itu, dia buru-buru pergi menghadiri undangan untuk melakukan advokasi ligitasi terhadap suatu kasus kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan terhadap tenaga kerja wanita di luar negeri.
Dalam kesibukan seperti itu, seakan sudah biasa, suaminya disuruh mencuci baju, pagi-pagi buta sudah merejang air untuk memandikan anak-anak mereka yang masih kecil, mengganti popok, membedaki dan menemani sampai mereka tenang dan diam. Sang suami pun dapat berbelanja sayur dan lauk serta mencuci beras untuk ditanak demi kebutuhan anak dan isterinya.
Di kota-kota besar, tidak jarang kedua kasus di atas kita temui.
Kasus ketiga, seorang suami yang terkantuk-kantuk duduk bersila di beranda rumahnya. Tangannya menggenggam jagung mentah dan sekali-kali dilempar pada jagonya yang seminggu sekali diadu untuk memenangkan taruhan uang yang luar biasa banyak untuk ukuran mereka.
Sementara itu, isterinya yang masih muda sedang banting tulang bekerja sebagai kuli bangunan. Di bawah sinar matahari dia telusuri garis-garis kehidupan. Untuk menahan panasnya terik matahari, dia berlindung di bawah topi jerami. Namun tetap saja, keringatnya merembes sampai ke ujung-ujung jemarinya.
Mungkin kita tidak menyangka bahwa dari keringat itulah suaminya dan ayam jagoya tadi hidup, termasuk uang taruhan ketika si jago sedang berduel. Pemandangan ini bisa dilihat di pedalaman pulau Bali
Kasus keempat, kisah Fitria (bukan nama yang sebenarnya). Dia adalah seorang gadis cerdas yang dilahirkan di sebuah kampung pedalaman Madura. Tingkat pendidikannya sampai SLTA. Pada usia 18 tahun, sebenarnya dia masih ingin meneruskan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi (PT). Namun ia tidak dapat menolak desakan orangtuanya untuk menerima lamaran seorang pemuda yang tidak dicintainya. Kalau dia menolak, menurut orangtuanya, berarti ia telah tidak berbakti lagi kepada mereka. Lagipula, seorang gadis yang telah mencapai usia 17 tahun ke atas apabila masih belum memiliki tunangan dan/atau belum menikah, para tetangga di sekitarnya akan mengolok-oloknya sebagai perawan tua yang tak laku-laku.
Dengan persepsi umum sebuah komunitas masyarakat tersebut, sebuah keluarga akan malu jika punya anak gadis yang telah “cukup umur” masih belum menikah atau, paling tidak, bertunangan. Maka, sebagai anak yang berbakti kepada orangtua, Fitria terpaksa menikah pada usia itu. Meski begitu, ia berharap akan hidup bahagia dan senang bersama suaminya yang sebelumnya tidak pernah dia cintai.
Namun harapannya pupus lantaran kehidupan rumah tangganya dipenuhi duka-duka lara yang sebenarnya tidak pernah ia inginkan dan sangat bertolak belakang dengan mimpi-mimpi yang pernah dia bangun ketika ia mendapat ranking atas di sekolahnya. Setiap hari ia harus bangun pagi-pagi sekali, ketika suaminya masih enak-enaknya ngorok tidur. Di samping untuk salat, dia harus telah merejang air untuk mengisi bak mandi agar setelah suaminya bangun dapat langsung berwudhu’ atau mandi.
Bukan hanya itu, biasanya ia langsung mencuci pakaiannya dan pakaian suaminya, lalu mencuci perabotan rumah tangga. Habis itu, dia masih punya kewajiban, yaitu pergi ke pasar untuk menjual hasil taninya atau mengangkut air yang terkadang dari tempat yang lumayan jauh untuk menyiram tanaman tembakau di ladangnya.
Ia melakukan semua itu tanpa membangunkan suaminya. Orang-orang di kampungnya bilang, seorang isteri tidak boleh menganggu suaminya yang sedang tidur. Dosa. Dan karenanya sang isteri tidak akan kebagian surga suami, sebab surga isteri numpang pada suaminya.
Setelah kira-kira jam 7.30, dia harus buru-buru pulang karena punya kewajiban memasak untuk suaminya. Ia tetap saja buru-buru meski tahu di rumahnya takkan ada suaminya, karena, seperti biasa, jam segini suaminya telah berada di warung kopi. Di sana, suaminya ngobrol sambil menyantap pisang goreng dengan ngutang bersama suami-suami yang lain.
Sekitar pukul sembilan atau sepuluh, biasanya suaminya pulang untuk sarapan pagi. Dan kalau masih belum siap, tak jarang Fitria dimarahi suaminya. Biasanya dengan mengatakan, “Isteri yang baik itu adalah yang dapat melayani suaminya sebaik-baiknya”. Fitri tak banyak tingkah, paling-paling akan menjawab, “Engghi Makk…” (Ya Mas). Begitulah setiap hari.
Hingga hari ini, contoh kasus di atas masih terjadi di banyak tempat di negeri ini. Lalu dengan apa kita mengukur keberhasilan perjuangan RA Kartini? Apakah dengan semaraknya lomba busana ala RA Kartini? Dengan maraknya seminar atau forum yang mengusung tema emansipasi wanita? []
Leave a Comment

